JOURNAL // LATEST NEWS
Berita & Informasi Terbaru
Ikuti perkembangan terbaru mengenai prestasi mahasiswa, riset kolaboratif dosen, agenda akademik, serta pengumuman penting dari program studi KTF UMB.
Daftar Artikel & Berita
Prodi Kriya Tekstil dan Fashion UM Bandung Gelar Pameran Jejak Rasa
PRODI Kriya Tekstil dan Fashion Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung sukses menggelar International Art and Craft Exhibition bertajuk ”Jejak Rasa: Collaboration Art and Craft to Empower Global Identity.” Temukan lebih banyak Pembukaan pameran berlangsung pada Jumat (2/5) di Auditorium KH Ahmad Dahlan, lantai tiga Gedung UM Bandung, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 752, Kota Bandung, bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional. Sejumlah karya seni dari program studi Kriya Tekstil dan Fashion UM Bandung dan beberapa kampus lain di Indonesia dipamerkan dalam kegiatan ini. Pembukaan dihadiri Rektor UM Bandung Herry Suhardiyanto, Dekan Fakultas Sosial dan Humaniora Irianti Usman, serta sejumlah guru SMK dari Malaysia.Kepala Prodi Kriya Tekstil dan Fashion UM Bandung Saftiyaningsih Ken Atik menjelaskan bahwa ide pameran ini berawal dari kunjungan tamu luar negeri yang kemudian berkembang menjadi ajang kolaborasi kreatif. ”Pameran ini merupakan bentuk kolaborasi lintas negara yang tidak hanya mempertemukan karya, tetapi nilai dan identitas budaya. Kami ingin menegaskan bahwa Indonesia memiliki kekayaan budaya yang mampu berbicara di panggung global,” ujarnya. Dia berharap kegiatan ini dapat mendorong aksi nyata dari kampus untuk menjaga nilai-nilai luhur budaya.”Sebagai bagian dari Islamic Technopreneur University, kami ingin karya-karya kriya ini tidak hanya bernilai estetika, tetapi menyampaikan pesan tentang siapa kita, bangsa dengan akar budaya yang kuat di tengah dunia yang semakin tanpa batas,” jelas Ken. Pameran ini menarik perhatian para guru dari delapan SMK di Malaysia. Mereka menunjukkan antusiasme tinggi untuk belajar mengenai seni kriya dan desain. ”Meskipun mereka berasal dari SMK, tetapi semangat mereka untuk mempelajari hal-hal baru di bidang seni kriya dan desain sangat luar biasa,” tambah Ken. Sementara itu, Ketua Delegasi Guru Pendidikan Seni Visual Daerah Sepang, Malaysia, Salbiah Binti Sanusi, mengapresiasi penyambutan dan pelaksanaan pameran di UM Bandung. ”Alhamdulillah, sambutannya lebih keren daripada lawatan kami sebelumnya. Program Jejak Rasa ini merupakan kejutan luar biasa bagi rombongan kami,” ujar Salbiah. Salbiah juga menjelaskan kondisi pengajaran seni visual di sekolah-sekolah Malaysia. ”Untuk tingkatan 1 hingga 3, pendidikan seni visual adalah subjek wajib. Namun, pada tingkatan 4 dan 5 bersifat elektif. Banyak siswa yang mengambil seni bukan karena minat, sehingga kami harus bekerja keras agar mereka dapat menghargai seni,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa di Malaysia, seni visual diajarkan secara dasar, baik teori maupun praktik, seperti menggambar dan crowd art. ”Kami hanya mengajarkan hal-hal yang dasar. Harapannya mereka bisa mahir secara dasar." Salbiah melihat pameran ini sebagai peluang kolaborasi antara sekolah-sekolah di Malaysia dengan UM Bandung. ”Mudah-mudahan ini bukan pertemuan terakhir, tetapi titik permulaan. Kami memiliki dua sekolah berbasis agama dan murid-muridnya bagus secara akademik. Mungkin nanti bisa kerja sama lebih lanjut." Berbagai karya seni penuh warna dipamerkan di Selasar Gagas UM Bandung. Karya-karya tersebut berhasil memikat perhatian para pengunjung, baik dari kalangan mahasiswa maupun masyarakat umum. Banyak di antara mereka yang mengabadikan momen dengan berswafoto di lokasi pameran yang sekaligus menjadi spot foto estetik. Pada pembukaan pameran juga ditampilkan peragaan busana (fashion show) yang diiringi musik tradisional Rumpakasahita. Selain itu, mahasiswa Prodi Kriya Tekstil dan Fashion juga turut mempersembahkan tarian sampurasun sebagai tarian selamat datang. Para delegasi dari Malaysia diajak mengunjungi laboratorium Kriya Tekstil dan Fashion. Mereka melihat-lihat aneka bentuk karya seni yang dipamerkan di sana. Acara yang digelar meriah ini berlangsung dari Jumat hingga Selasa (2–6/5). Sejumlah karya seni dosen dan mahasiswa dari kampus lain juga dipamerkan dalam kegiatan ini. Mereka berasal Istitut Seni Budaya Indonesia Bandung, Institut Seni Indonesia Denpasar Bali, Institut Seni Indonesia Padang Panjang, Institut Seni Indonesia Surakarta, Institut Teknologi Nasional, Jakarta Institute of Arts, Sekolah Tinggi Desain Indonesia, Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Sebelas Maret, Universitas Teknologi Digital, dan PaiviPunamaki dari Scandinavia. Para guru Malaysia berasal dari SAM Bandar Baru Salak Tinggi, SMK Bandar Baru Salak Tinggi, SMK Cyberjaya, SMK Dato Abu Bakar Baginda, SMK Pantai Sepang Putra, SMK Putra Perdana, SMK Sri Sepang, SMK Sungai Pelek, dan SMK Sungai Rawang.
Lintas Batas Kreativitas: 50 Seniman dari 8 Negara Unjuk Karya Kriya di Museum ARMA Bali
PAMERAN seni rupa bertajuk “Prakriti – Pustaka – Padma 2026” yang berlangsung di Museum ARMA menyajikan ragam karya seni memukau yang menciptakan suasana heterogen dan dinamis. Ruang pameran menjadi gemerlap berkat perpaduan apik antara karya seni dua dan tiga dimensi. Karya-karya yang dipajang tidak hanya menawarkan keindahan visual, tetapi juga membawa pengunjung merasakan nuansa kontras antara kemegahan patung dan keramik, kelembutan motif batik, serta ekspresi warna-warni yang tertuang di atas kanvas. Pameran seni rupa yang melibatkan seniman kriya dari beberapa perguruan tinggi seni di Indonesia serta seniman profesional mancanegara ini dibuka resmi oleh Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Prof. Dr. Kun Adnyana, yang ditandai dengan pemukulan gong pada Minggu, 5 Juli 2026. Prosesi pembukaan ini turut didampingi oleh Pendiri Museum ARMA, Anak Agung Rai, serta jajaran kurator ternama seperti Jean Couteau, Warih Wisatsana, dan Seriyoga Parta. Pameran ini dijadwalkan berlangsung hingga 18 Juli 2026. Acara pembukaan ini dihadiri oleh berbagai tokoh penting, di antaranya perwakilan dari Dinas Kebudayaan Gianyar, Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) serta Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) ISI Bali beserta jajarannya, para budayawan, seniman, maestro seni rupa Bali, pemilik museum dan galeri, para Guru Besar ISI Bali, serta para seniman peserta pameran baik dari dalam maupun luar negeri. “Pameran Kriya Prakriti – Pustaka – Padma ini merupakan bagian dari rangkaian perayaan ulang tahun ke-30 Museum ARMA yang jatuh pada 9 Juni 2026. Museum ARMA berkomitmen penuh untuk menghadirkan berbagai program kegiatan, tidak hanya di bidang seni rupa, tetapi juga seni pertunjukan, baik dalam skala lokal, nasional, maupun internasional,” ujar Ketua Panitia, Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn., dalam laporannya. Dalam program pameran tahun ini, Museum ARMA bekerja sama dengan Program Studi (Prodi) Kriya ISI Bali sebagai pelaksana utama pameran internasional tersebut. Pameran yang menghadirkan keragaman medium dan pendekatan artistik ini memperlihatkan bagaimana seni kriya dewasa ini berkembang pesat melalui kreativitas lintas batas. Hal ini juga menjadi ruang eksplorasi estetik kontemporer seiring terjadinya interaksi lintas budaya yang saling memperkaya kemungkinan cipta. Pameran berskala internasional ini diikuti oleh seniman dari 8 negara, yaitu Amerika Serikat (USA), Belanda, Jerman, Swiss, India, Kenya, Iran, dan Indonesia. Selain seniman profesional, pameran ini juga didukung oleh akademisi dan dosen kriya dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, seperti ISI Yogyakarta, ISI Surakarta, ISBI Bandung, Unesa Surabaya, Institut Informatika Indonesia (IKADO) Surabaya, Universitas Muhammadiyah Bandung, Universitas Negeri Gorontalo, Universitas Bumigora Nusa Tenggara Barat, serta kelompok seniman seni rupa dari Surabaya.
Karya Tekstil Ken Atik Bawa Nama UM Bandung ke Ruang Apresiasi Seni Global
Sebuah karya tekstil dari ruang kreatif Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung kini menjadi bagian dari percakapan seni dunia. Melalui tangan Kaprodi Kriya Tekstil dan Fashion (KTF) UM Bandung Ken Atik, wastra Indonesia hadir dalam Pameran Prakriti–Pustaka–Padma 2026, pameran seni internasional yang berlangsung di Museum ARMA (Anak Agung Rai Museum of Art), Ubud, Bali. Pencapaian tersebut menjadi penanda bahwa karya akademisi UM Bandung mampu menembus ruang apresiasi seni global. Keikutsertaan Ken Atik tidak diraih melalui undangan langsung, melainkan melalui proses kuratorial yang diselenggarakan Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Dari proses seleksi tersebut, ia terpilih sebagai salah satu seniman tekstil yang mewakili Indonesia bersama puluhan perupa dari berbagai negara. “Saya mendapat undangan dari ISI Bali untuk mengikuti Pameran Prakriti melalui proses kuratorial. Alhamdulillah karya saya lolos dan dapat menjadi bagian dari pameran internasional tersebut sebagai artist textile,” ujar Ken. Pada ajang tersebut, Ken menghadirkan karya tekstil berukuran 110 x 225 sentimeter yang memadukan berbagai teknik eksplorasi permukaan. Batik, lukis, art foiling, dan ikat celup dipadukan di atas kain sutra menggunakan pewarna sintetis, menghasilkan karya yang mempertemukan kekayaan tradisi tekstil Nusantara dengan pendekatan seni rupa kontemporer. Meski tidak dapat hadir langsung di Bali, karya yang dipamerkan menjadi representasi perjalanan kreatif sekaligus identitas akademik yang dibawa UM Bandung ke panggung internasional. Bagi Ken, setiap helai kain yang dipresentasikan bukan hanya berbicara tentang estetika. Namun, juga tentang proses pendidikan, riset, dan pengabdian yang tumbuh di lingkungan kampus. “Ini menjadi kebanggaan bagi UM Bandung, khususnya Prodi Kriya Tekstil dan Fashion. Dosen-dosen kami terus mendapatkan kepercayaan untuk mengikuti berbagai pameran internasional. Semoga ini menjadi motivasi bagi mahasiswa untuk terus berkarya dan membangun karakter profesional sebagai perupa ataupun desainer,” katanya. Menurutnya, keterlibatan dosen dalam forum seni internasional merupakan bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi. Pengalaman berpameran, berdialog, serta membangun jejaring dengan seniman dari berbagai belahan dunia akan memperkaya proses pembelajaran di kelas sekaligus membuka cakrawala baru bagi mahasiswa mengenai perkembangan seni dan desain global. Pameran Prakriti–Pustaka–Padma 2026 digagas ISI Denpasar dengan Ketua Panitia I Wayan Suardana. Mengangkat tiga gagasan utama. Prakriti dimaknai sebagai alam yang menjadi sumber inspirasi penciptaan, sedangkan Pustaka merepresentasikan pengetahuan yang diwariskan lintas generasi.Sementara itu, Padma atau bunga teratai menjadi simbol tumbuhnya kreativitas melalui proses artistik yang terus berkembang. Ajang yang dibuka Rektor ISI Bali Kun Adnyana pada 5 Juli 2026 itu menjadi bagian dari peringatan 30 tahun Museum ARMA. Pembukaan turut dihadiri Pendiri Museum ARMA Anak Agung Rai bersama para kurator Jean Couteau, Warih Wisatsana, dan Seriyoga Parta, menegaskan posisi pameran ini sebagai salah satu ruang apresiasi seni yang penting di kawasan Asia. Sebanyak 50 seniman dari delapan negara, yakni Amerika Serikat, Belanda, Jerman, Swiss, India, Kenya, Iran, dan Indonesia, menghadirkan beragam karya dalam medium patung, keramik, batik, wastra, tekstil, hingga seni kontemporer. Pertemuan berbagai medium dan latar budaya tersebut menjadikan pameran ini sebagai ruang dialog lintas bangsa yang memperlihatkan bagaimana seni mampu menjembatani perbedaan melalui bahasa visual yang universal. Keikutsertaan Ken Atik semakin menegaskan bahwa UM Bandung tidak hanya melahirkan akademisi yang aktif mengajar dan meneliti. Namun, seniman yang mampu menghadirkan gagasan kreatif di panggung internasional. Dari ruang studio kampus hingga galeri seni dunia, karya tekstil yang dibawanya menjadi bukti bahwa kreativitas akademik Indonesia terus menemukan tempatnya di tengah percakapan seni global. Pameran Prakriti–Pustaka–Padma 2026 ini berlangsung hingga 18 Juli 2026.
Prodi KTF UM Bandung Fokus Kembangkan Inovasi Tekstil Berbasis Keberlanjutan
Program Studi Kriya Tekstil dan Fashion (KTF) Universitas Muhammadiyah Bandung terus memperkuat posisinya sebagai program studi yang mengedepankan kreativitas, budaya, dan inovasi tekstil berbasis keberlanjutan. Kaprodi Kriya Tekstil dan Fashion UM Bandung Saftiyaningsih Ken Atik menegaskan bahwa prodi ini dirancang untuk melahirkan lulusan yang tidak hanya terampil secara teknis, tetapi memiliki visi keilmuan dan karakter kuat. Menurut Ken Atik, keunggulan utama Prodi Kriya Tekstil dan Fashion terletak pada pendekatan keilmuan yang berpusat pada medium tekstil. “Kami tidak berhenti pada desain visual atau sekadar gaya, tetapi menempatkan tekstil sebagai medium utama dalam proses berpikir, berkarya, dan berinovasi,” ujarnya di Kampus UM Bandung pada Selasa (24/02/2026). Dia menjelaskan, pembelajaran di prodi ini difokuskan pada tiga ranah utama, yakni structure design, surface design, serta integrasi dan implementasi tekstil. Pada ranah structure design, mahasiswa dibekali pemahaman mendalam tentang struktur material tekstil. “Mahasiswa tidak hanya merancang bentuk, tetapi memahami bagaimana struktur tekstil diciptakan melalui tenun, anyam, rajut, crochet, hingga manipulasi tekstil,” jelas Ken Atik. Sementara itu, pada ranah surface design, mahasiswa diarahkan untuk menggali kekayaan budaya lokal sebagai sumber inspirasi. Ken Atik menegaskan bahwa wastra Nusantara menjadi fondasi penting dalam proses kreatif. “Budaya lokal kami jadikan basis inovasi, sehingga karya yang lahir tidak kehilangan identitas dan nilai artistiknya,” tuturnya. Lebih lanjut, dia menyampaikan bahwa integrasi dan implementasi tekstil menjadi ciri khas yang membedakan lulusan Prodi Kriya Tekstil dan Fashion UM Bandung. “Kami ingin lulusan menjadi textile creator dan innovator. Bukan hanya desainer busana, tetapi kriyawan tekstil yang mampu menghadirkan solusi desain di berbagai bidang,” ungkapnya. Dari sisi pembelajaran, Ken Atik menekankan bahwa kurikulum disusun berbasis Project-Based Learning. Proses belajar dilakukan melalui studio praktik, eksplorasi teknik dan material, serta proyek desain yang berangkat dari persoalan nyata. “Mahasiswa kami latih untuk merespons isu keberlanjutan, limbah tekstil, hingga pengembangan teknik tradisional menjadi produk modern,” katanya. Prodi ini juga secara aktif mengintegrasikan teknologi dalam proses pembelajaran. Mahasiswa dikenalkan pada desain tekstil digital, desain fashion berbasis teknologi, hingga konsep hybrid craft. “Kami menjembatani warisan kriya dengan teknologi masa depan, agar mahasiswa adaptif terhadap perkembangan industri,” jelas Ken Atik. Selain itu, koneksi dengan dunia industri menjadi perhatian serius Prodi Kriya Tekstil dan Fashion UM Bandung. Melalui program magang, kerja profesi, dan kolaborasi dengan UMKM, mahasiswa diarahkan untuk menghasilkan produk yang siap masuk pasar. “Kami ingin mahasiswa tidak hanya kuat secara konsep, tetapi juga siap secara profesional,” tambahnya. Dengan pendekatan tersebut, Ken Atik optimistis lulusan Prodi Kriya Tekstil dan Fashion UM Bandung memiliki prospek karier yang luas. “Lulusan kami diproyeksikan menjadi kriyawan tekstil profesional, perancang fashion, wirausahawan, hingga peneliti pemula yang berkarakter, beretika, dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Bedah Buku Kriya Tekstil Fashion di UMBandung Perkuat Pondasi Akademik dan Teknologi Wastra
Universitas Muhammadiyah Bandung kembali menghidupkan ruang akademik melalui kegiatan bedah buku bertajuk “Estetika, Tradisi dan Teknologi: Pondasi Kriya Tekstil Fashion” pada 20 Mei 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Pameran Kain dan Kebaya Ibu (KKI ke-3) yang berlangsung selama 20–23 Mei 2026 di ruang Selasar Gagas UMBandung. Buku tersebut ditulis oleh Dr. Komarudin Kudiya bersama Dra. Saftiyaningsih Ken Atik sebagai kontribusi keilmuan bagi pengembangan pendidikan, penelitian, dan penciptaan karya di bidang kriya tekstil fashion. Acara bedah buku berlangsung sekitar dua jam dan dihadiri Rektor UMBandung, Prof. Dr. Ir. Herry Suhardiyanto, beserta jajaran rektorat. Hadir pula akademisi, praktisi, organisasi budaya, dosen, mahasiswa, hingga pemerhati kriya tekstil dan wastra.Turut hadir Ketua Umum Yayasan Batik Jawa Barat Sendy Yusuf, Ketua Umum Komunitas Cinta Berkain Indonesia Bandung Yeyen Komar, dosen Universitas Pendidikan Indonesia Dr. Bandi Sobandi, mahasiswa Kriya Tekstil Fashion UMBandung, mahasiswa Institut Teknologi Nasional Bandung, serta tamu undangan lainnya. Kehadiran berbagai pihak menunjukkan buku tersebut dipandang bukan hanya sebagai karya akademik, tetapi juga jembatan antara dunia pendidikan, tradisi, praktik kriya, dan perkembangan teknologi. Buku ini hadir untuk menjawab kebutuhan mahasiswa dan dosen terhadap referensi yang sistematis, kontekstual, dan relevan dengan perkembangan kriya tekstil fashion masa kini. Dalam sesi pembedahan, Prof. Nanang Rizali memberikan apresiasi positif terhadap isi buku. Menurutnya, buku tersebut layak menjadi rujukan akademik, terutama bagi mahasiswa Program Studi Kriya Tekstil Fashion yang tengah menyusun skripsi maupun tugas akhir penciptaan karya. Ia menilai buku tersebut mampu memberikan pondasi berpikir yang kuat dalam memahami hubungan antara estetika, tradisi, proses kreatif, dan pemanfaatan teknologi dalam pengembangan karya tekstil dan fashion. Prof. Nanang juga menekankan pentingnya referensi yang tidak hanya membahas teknik atau produk, tetapi mampu membangun cara berpikir ilmiah dan kreatif mahasiswa. Melalui buku tersebut, mahasiswa diajak memahami bahwa karya kriya lahir melalui proses pengamatan, eksplorasi budaya, penguasaan material, hingga pertimbangan estetika yang matang. Sementara itu, Dr. Ahmad Rifa’i menyebut buku ini sebagai “fardu a’in” bagi mahasiswa Kriya Tekstil Fashion. Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya buku itu sebagai pegangan utama mahasiswa dalam membangun dasar keilmuan sebelum memasuki proses penciptaan karya, penelitian, maupun pengembangan desain. Menurutnya, mahasiswa seni dan desain saat ini tidak cukup hanya memiliki keterampilan teknis, tetapi juga perlu memahami teori, estetika, tradisi, serta perkembangan teknologi. Keempat unsur tersebut menjadi pembahasan utama dalam buku karya Komarudin Kudiya dan Ken Atik tersebut. Menariknya, buku “Estetika, Tradisi dan Teknologi: Pondasi Kriya Tekstil Fashion” tidak diperjualbelikan secara komersial. Penulis membagikan buku itu secara gratis sebagai bentuk ilmu jariyah yang dapat dimanfaatkan mahasiswa, dosen, peneliti, dan masyarakat umum. Pengunjung dapat mengunduh buku melalui pemindaian barcode yang tersedia pada poster di roll banner kegiatan. Langkah tersebut dinilai sebagai bentuk komitmen penulis dalam memperluas akses literasi akademik di bidang kriya tekstil fashion. Kegiatan bedah buku berlangsung hangat dan komunikatif. Peserta tidak hanya mendengarkan pandangan para pembedah, tetapi juga memperoleh pemahaman baru mengenai pentingnya literatur dalam membangun kualitas karya akademik maupun karya penciptaan. Secara keseluruhan, bedah buku ini menjadi momentum penting bagi UMBandung dalam memperkuat ekosistem akademik kriya tekstil fashion. Buku tersebut diharapkan mampu menjadi rujukan utama dan sumber inspirasi bagi mahasiswa dalam menghasilkan karya yang tidak hanya kuat secara visual, tetapi juga memiliki konsep, nilai budaya, dan relevansi terhadap perkembangan zaman.
Prodi Kriya Tekstil dan Fashion UM Bandung Cetak Kriyawan Tekstil Berkarakter dan Berdaya Saing
Prodi Kriya Tekstil dan Fashion UM Bandung terus mengukuhkan perannya sebagai ruang pendidikan kreatif yang memadukan budaya, inovasi, dan keberlanjutan. Program studi ini dirancang untuk melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga memiliki visi keilmuan, kepekaan budaya, serta karakter profesional yang kuat. Kepala Program Studi Kriya Tekstil dan Fashion UM Bandung Saftiyaningsih Ken Atik menegaskan bahwa keunggulan utama prodi terletak pada pendekatan keilmuan yang menempatkan tekstil sebagai medium utama dalam proses penciptaan karya. Menurutnya, pembelajaran tidak berhenti pada aspek visual atau gaya semata, melainkan menempatkan tekstil sebagai sarana berpikir, bereksplorasi, dan berinovasi. “Tekstil kami posisikan sebagai medium sentral dalam berkarya. Mahasiswa diajak memahami tekstil secara utuh, bukan sekadar sebagai produk akhir, tetapi sebagai proses kreatif yang sarat makna,” ujar Ken Atik saat ditemui di Kampus UM Bandung pada Selasa (24/02/2026). Ia menjelaskan, pembelajaran di Prodi Kriya Tekstil dan Fashion difokuskan pada tiga ranah utama, yakni structure design, surface design, serta integrasi dan implementasi tekstil. Ketiga ranah ini menjadi fondasi pengembangan kompetensi mahasiswa sejak tahap konseptual hingga aplikasi karya. Pada ranah structure design, mahasiswa dibekali pemahaman mendalam mengenai struktur material tekstil. Mereka tidak hanya merancang bentuk, tetapi juga mempelajari bagaimana struktur tekstil dibangun melalui berbagai teknik seperti tenun, anyam, rajut, crochet, hingga manipulasi material tekstil secara kreatif dan eksperimental. Sementara itu, pada ranah surface design, mahasiswa diarahkan untuk menggali kekayaan budaya lokal sebagai sumber inspirasi utama. Ken Atik menekankan bahwa wastra Nusantara menjadi fondasi penting dalam proses kreatif agar karya yang dihasilkan tetap berakar pada identitas budaya. “Budaya lokal kami jadikan basis inovasi, sehingga karya yang lahir memiliki nilai artistik sekaligus jati diri,” tuturnya. Lebih jauh, integrasi dan implementasi tekstil menjadi ciri khas yang membedakan lulusan Prodi Kriya Tekstil dan Fashion UM Bandung. Lulusan diproyeksikan tidak hanya sebagai perancang busana, tetapi sebagai textile creator dan innovator yang mampu menghadirkan solusi desain lintas bidang, mulai dari produk kreatif hingga kebutuhan industri. Dari sisi kurikulum, pembelajaran dirancang berbasis Project-Based Learning. Proses belajar berlangsung melalui studio praktik, eksplorasi teknik dan material, serta proyek desain yang berangkat dari persoalan nyata. Mahasiswa dilatih merespons isu keberlanjutan, pengelolaan limbah tekstil, hingga pengembangan teknik tradisional agar relevan dengan kebutuhan produk modern. Integrasi teknologi juga menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran. Mahasiswa diperkenalkan pada desain tekstil digital, desain fashion berbasis teknologi, hingga konsep hybrid craft yang menjembatani warisan kriya dengan inovasi masa depan. Pendekatan ini dilakukan agar mahasiswa adaptif terhadap dinamika industri kreatif yang terus berkembang. Selain itu, Prodi Kriya Tekstil dan Fashion UM Bandung secara aktif membangun koneksi dengan dunia industri melalui program magang, kerja profesi, dan kolaborasi dengan UMKM. Upaya ini bertujuan membekali mahasiswa dengan pengalaman nyata agar siap memasuki dunia kerja dan pasar kreatif. Dengan pendekatan tersebut, Ken Atik optimistis lulusan Prodi Kriya Tekstil dan Fashion UM Bandung memiliki prospek karier yang luas. “Lulusan kami diproyeksikan menjadi kriyawan tekstil profesional, perancang fashion, wirausahawan kreatif, hingga peneliti pemula yang berkarakter, beretika, dan berorientasi pada keberlanjutan,” pungkasnya.
Batik Karya Mahasiswa UM Bandung Tampil di Ruang Apresiasi Nasional
Di antara hamparan motif dan warna yang memenuhi Hall A Jakarta International Convention Center (JICC), sebuah sudut pameran menghadirkan cara baru memaknai batik. Bukan hanya sebagai selembar kain, melainkan sebagai medium ekspresi, ruang eksplorasi, sekaligus karya seni yang terus tumbuh mengikuti zaman. Itulah yang ditampilkan mahasiswa Prodi Kriya Tekstil dan Fashion (KTF) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung dalam Pagelaran Seni Batik Puspa Nuswantara 2026. Pameran ini digelar dari 8–12 Juli 2026 oleh APPBI dengan tema "Rupa Makna Tambal Nusantara". Menghadirkan perajin, desainer, akademisi, dan pelaku industri kreatif dari berbagai daerah, ajang ini menjadi ruang perjumpaan antara tradisi, kreativitas, dan inovasi. Di booth Prodi KTF UM Bandung, batik hadir dalam beragam bentuk. Tidak hanya berupa batik tulis dan batik cap, tetapi menjelma menjadi bantal dekoratif, lampu, hingga berbagai aksesori interior. Setiap karya memperlihatkan bagaimana nilai-nilai tradisi dapat diterjemahkan ke dalam desain yang lebih kontemporer tanpa kehilangan ruh budaya yang dikandungnya. Mahasiswa Prodi KTF UM Bandung Wafa Ulhaq Ramadania mengatakan seluruh karya yang dipamerkan merupakan hasil proses pembelajaran dan eksplorasi selama menjalani perkuliahan. "Kami menghadirkan berbagai karya batik hasil pembelajaran selama perkuliahan, mulai dari batik tulis, batik cap, hingga penerapan tekstil untuk produk interior. Kami ingin menunjukkan bahwa batik memiliki ruang yang luas untuk terus berkembang menjadi karya yang dekat dengan kehidupan masyarakat," ujarnya. Baginya, tampil di panggung nasional bukan sekadar kesempatan memamerkan hasil karya, tetapi pengalaman untuk mempertemukan gagasan mahasiswa dengan apresiasi publik. Setiap karya menjadi cerminan proses belajar yang menghubungkan tradisi, riset, dan kreativitas dalam satu kesatuan. Apresiasi datang dari salah seorang pengunjung, Melati, yang menilai karya mahasiswa UM Bandung mampu menghadirkan perspektif baru terhadap batik. Menurutnya, inovasi yang ditampilkan memperlihatkan bahwa generasi muda memiliki cara kreatif dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya Indonesia. "Luar biasa. Karya-karya mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bandung sangat kreatif dan memiliki nilai budaya. Ini menjadi bentuk nyata upaya melestarikan batik Nusantara," katanya. Sementara itu, Ketua Umum APPBI Komarudin Kudiya menegaskan bahwa Pagelaran Seni Batik Puspa Nuswantara tidak sekadar agenda pameran. Namun, gerakan kebudayaan yang menghubungkan seluruh elemen dalam ekosistem batik Indonesia. "Puspa Nuswantara hadir sebagai ruang bersama untuk mempertemukan seluruh pemangku kepentingan dalam ekosistem batik," ujarnya. Komarudin, yang juga dosen Prodi KTF UM Bandung dan penulis buku “Kreativitas Batik dalam Pewarnaan Sintesis”, menuturkan bahwa batik merupakan identitas bangsa yang menyimpan sejarah, filosofi, dan kearifan lokal. Oleh karena itu, menurutnya, para perajin dan pelaku kreatif harus terus diperkuat agar mampu menjawab tantangan industri modern tanpa kehilangan jati dirinya. "Kami ingin masyarakat semakin mengenal, mencintai, dan menggunakan batik asli sebagai bagian dari kebanggaan nasional," tegasnya. Keikutsertaan Prodi KTF UM Bandung dalam Pagelaran Seni Batik Puspa Nuswantara 2026 menjadi gambaran bahwa ruang akademik tidak hanya melahirkan karya untuk dinilai di kelas. Dari studio kampus, gagasan-gagasan kreatif itu tumbuh menjadi karya yang dapat berdialog dengan publik, merawat ingatan budaya, sekaligus memperlihatkan bahwa batik akan terus hidup selama ada generasi yang bersedia menenun makna di setiap helainya.